Rabu, 10 September 2014

Pidato / Ceramah / Khutbah Jum'at



Puasa Asyura dan Bulan Muharram



      إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kaum muslimin Jamaah Jumat yang berbahagia

Sesungguhnya   bulan  Allah Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah, Muharram adalah awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan - bulan haram, sebagaimana firman Allah I yang artinya :
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di-antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At Taubah :36)

Adapun maksud dari firman Allah I “Janganlah kamu menganiaya diri kamu” yakni, pada bulan-bulan haram karena kesalahan atau dosa yang dikerjakan waktu itu lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau dosa yang dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Berkata Qatadah رحمه الله : “Sesungguhnya kezholiman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezho-liman di dalam segala hal dan keadaan meru-pakan dosa besar akan tetapi Allah I senan-tiasa mengagungkan dan memuliakan bebera-pa perkara/ urusan menurut kehendakNya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah: 36).

            Diriwayatkan dari Abu Bakrah t, Nabi r bersabda :
)...السَّــنَةُ اثْــنَا عَشَرَ شَـهْرًا مِنْـهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَــاتٌ ذُو الْـقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَـيْنَ جُمَادَى وَشَعْـبَانَ( رواه البخاري
“…Setahun terdiri dari dua belas bulan di da-lamnya terdapat empat bulan haram, tiga dianta-ranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan  keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari)

            Dinamakan Muharram karena tergolong bulan haram dan sebagai penekanan akan ke-haramannya.

Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah Pada Bulan Muharram : 

     Dari Abu Hurairah t ia telah berkata, Rasulullah  bersabda :

)أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ ( رواه مسلم
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram” (HR. Muslim).

            Lafadz "شهر الله" (Bulan Allah), penyandaran “Bulan” kepada “Allah” dimaksudkan sebagai bentuk pengagungan-Nya kepada bulan terse-but. Imam Alqari رحمه الله berkata: “Nampak-nya maksud dari hadits tersebut adalah ber-puasa pada seluruh bulan Muharram”.

            Akan tetapi telah diriwayatkan, bahwasa-nya Nabi r tidaklah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan saja, jadi hadits ini hanya menunjukkan keutamaan memper-banyak puasa pada bulan Muharram, bukan berpuasa dengan sebulan penuh.

            Dan telah diriwayatkan juga bahwa Nabi r senantiasa memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, hal ini mungkin dikarenakan belum turunnya wahyu kepada beliau yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Muharram kecuali pada akhir hayatnya sebe-lum beliau sempat berpuasa pada bulan tersebut. (Lihat Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi)

Sejarah ‘Asyura :

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ r الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ :  )مَا هَذَا ؟( قَالُوا : "هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى" قَالَ ) فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْـكُمْ( فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ  رواه البخاري
“Setelah Nabi r tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau bekata: “apakah ini?”, mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”, selanjut-nya beliau berkata: “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”, maka beliau berpuasa dan memerin-tahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu (HR. Bukhari).

            Sebenarnya puasa ‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah, dari Aisyah رضي الله عنها ia telah berkata:
) أَنَّ قُرَيــْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ( رواه البخاري
“Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga ber-puasa pada hari itu…”. (HR. Bukhari)

Imam Qurthubi رحمه الله berkata: “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim u, dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi r berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi menanyakan hal tersebut dan mereka berkata sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk me-nyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa t :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَ تَـتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ r ) صُومُوهُ أَنْـتُمْ ( رواه مسلم
“‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya” Maka Nabi r bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa ‘Asyura :

     Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:
) مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ r يَـتَحَرَّى صِيَامَ يـَوْمٍ فَضَّــلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيـَـوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّـهْرَ يَعْنِي شَـهْرَ رَمَضَانَ( رواه البخاري
“Saya tidak melihat Nabi r memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).

Dari Abu Qadah t, Nabi r bersabda:
) صِيَامُ يـَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّــنَةَ الَّتِي قَــبْلَهُ ( رواه الترمذي
“Puasa hari ‘Asyura, Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya.” (HR. Tirmidzi)

            Hal ini sangat jelas merupakan keutama-an Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.

Apakah Hari ‘Asyura Itu?! :

            Imam Nawawi رحمه الله berkata: ‘Asyura dan tasu’a adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab), ‘ulama mazhab kami berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut….. sebagaimana menurut pendapat kebanyakan ‘ulama…penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya dan keumuman hadits- haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa".

            Ibnu Qudamah رحمه الله  berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al Musayyab dan Al Hasan, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwasanya ia telah berkata:
) أَمَرَ رَسُولُ اللهِ r بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ الْعَاشِرِ ( رواه الترمذي
“Rasulullah r memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)”.(HHR. Tirmidzi).

Disunnahkan Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura :

      Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما telah berkata:

 حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ r يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا :"يـَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالـنَّصَارَى" فَقَالَ رَسُولُ اللهِ r ) فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ( قَالَ "فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ r " رواه مسلم
“Ketika Rasulullah r berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagung-kan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah r bersabda: “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan” dia (Ibnu Abbas) berkata: “akan tetapi beliau  r telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim).

            Imam Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lainnya berkata : Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi r berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan.

            Maka dari itu puasa ‘Asyura bertingkat-tingkat : (pertama): hanya berpuasa pada hari kesepuluhnya saja, (kedua): berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dan (ketiga) dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.
Hikmah Disunnahkannya Puasa Tasu’a :
            Imam Nawawi  رحمه الله berkata: “Sebagi-an ‘ulama dari shahabat kami dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a, dian-taranya adalah Untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh”.

Dosa Apakah Yang Dihapus Pada Puasa ‘Asyura :

            Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab juz 6 tentang puasa hari Arafah).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Bersuci, sholat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil” (Lihat Al Fatawa Al Kubra juz 5).
Bid’ah – Bid’ah ‘Asyura
            Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh sebagian orang pada hari ‘Asyura, seperti memakai celak mata, mandi, mengolesi badan dengan daun pacar, saling berjabat tangan, mema-sak kacang-kacangan, menampakkan pera-saan gembira, dan lain sebagainya..apakah kebiasaan-kebiasaan ini memiliki dasar di dalam agama atau tidak?

            Beliau menjawab : ”Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sesungguhnya hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi yang shohih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan para ulama kaum muslimin termasuk Imam yang empat tidak mengangapnya sebagai sesuatu yang baik, dan tidak ada satu hadits pun baik yang shohih atau yang lemah berbicara me-ngenai hal itu, akan tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah diriwayat-kan di dalam hadits maudhu (palsu) lagi dusta yang disandarkan kepada Nabi r : “Barang siapa yang melapangkan keluarga-nya (dalam nafkah belanja dsb) pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”. Riwayat-riwayat seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi r.

            Kemudian beliau رحمه الله menyebutkan secara ringkas apa yang terjadi pada umat terdahulu berupa fitnah, peristiwa-peristiwa dan kisah tentang pembunuhan Husain t serta apa yang dilakukan oleh sebagian firqah setelah kejadian-kejadian itu, kemu-dian selanjutnya beliau berkata: “Maka fir-qah tersebut menjadi sesat dan zholim, di-antara mereka ada yang kufur, munafik dan ada yang termasuk orang yang disesatkan.

            Di antara penyimpangannya antara lain mereka mencintai beliau (Husain) dan Ahlul Bait secara berlebihan, menjadikan hari ‘As-yura adalah hari berduka cita dan meratap, meraka menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan syair-syair yang menyedihkan, padahal berita-berita tersebut kebanyakan dusta sehingga apa yang mereka perbuat hanya menambah dan melahirkan kesedihan, sikap fanatik, menyulut api peperangan dan me-nyebarnya fitnah diantara kaum muslimin serta merendahkan generasi terdahulu…. sehingga keburukan dan bahaya mereka sampai-sampai tidak lagi dapat dihitung dan disebutkan oleh orang yang fasih.

            Karena itu muncullah beberapa kaum yang menyimpang yang sebagian mereka adalah orang-orang  fanatik terhadap Husein t dan keluarganya sedangkan lainnya ada-lah orang-orang jahil yang membalas keru-sakan dengan kerusakan, dusta dengan dusta, kejelekan dengan kejelekan, bid’ah dengan bid’ah. Mereka banyak memalsukan riwayat-riwayat sebagai dalil disyariatkannya bergembira pada hari ‘Asyura seperti mema-kai celak dan mencat kuku, pemberian nafkah kepada keluarganya, memasak ma-kanan yang istimewa dan lainnya seba-gaimana yang dilakukan pada hari raya. Mereka menjadikan Hari ‘Asyura sebagai suatu musim seperti layaknya hari raya dan waktu bersedih dan bergembira. Kedua kelompok tersebut menyimpang dan keluar dari sunnah…(Lihat Al Fatawa Al Kubra).

            Ibnu Al Hajjajرحمه الله  menyebutkan bahwa diantara bid’ah ‘Asyura adalah menye-ngaja untuk mengeluarkan zakat, sama saja jika mengeluarkannya di awal atau diakhir waktu, mengkhususkam memotong ayam ketika itu dan memakai daun pacar bagi wanita. (Lihat Al Madkhal juz 1 tentang hari ‘Asyura).
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Selasa, 02 September 2014

Resume Buku " Mengarang? ...ah, Gampang "


Judul         : Mengarang? ... ah, Gampang "Langkah-Langkah Mudah Menulis Cerpen, Novel, dan Skenario"
Pengarang : Langit Kresna Hariadi
Penerbit    : PT. Puri Pustaka

Mengarang tidak jauh dari yang namanya tulis-menulis. Nah, untuk menjadi seorang pengarang harus mampu berpikir dengan cara pengarang tapi hal ini tidak sesederhana sekedar tulis menulis. Orang yang mampu atau memiliki bakat berbicara belum tentu ia mampu menuangkan ide-ide atau pikirannya dalam bentuk tulisan, dan sebenarnya untuk menulis sekedar memindahkan apa yang diucapkan, sementara mengarang dimulai dengan menuangkan apa yang di rasakan. hasil dari menulis baru berupa catatan, sebaliknya hasil dari mengarang bakal tumbuh dan hidup roh di catatan itu.
     Asumsi yang mengatakan bahwa orang yang pintar berbicara mestinya juga pintar mengarang, itu tidak sepenuhnya benar. Banyak dalang yang hebat di pentas pegelarannya, hebat membuat dramatisasi dan membangun konflik menjulang ke klimaks, ternyata jeblok ketika memindahkannya ke dalam bentuk tulisan. Nah dari semua itu adalah karena adanya hambatan yang membuat yang bersangkutan tidak tahu bagaimana cara menjebolnya.
     Sebenarnya kemampuan dalam menguasai jenis kegiatan atau pekerjaan tertentu adalah melaui dengan pengulangan-pengulangan, tidak pernah berhenti, dan terus berkesinambungan. demikian pula halnya dengan menulis dan mengarang, untuk mendapat hasil yang bagus tak mungkin lansung bisa. kemampuan itu harus melewati pengasahan tanpa henti. makanya mengarang itu sejatinya memindahkan apa yang anda lihat, anda rasakan, dan anda ucapkan ke dalam bentuk tulisan.
     Sisakan waktu untuk menulis secara disiplin agar tidak kehilangan kesinambungan emosi. Berhenti sampai beberapa hari kemudian melanjutkan kembali akan menyebabkan kita perlu menghidupkan kembali jiwa dari tulisan itu.
    Proses dari kreasi atas sebuah karangan pada dasarnya adalah bagaimana cara pengarang memandang berbagai peristiwa, fakta, dan realitas, lalu mengelolahnya melalui imajinasi menjadi sebuah karangan, dan untuk memahami imajinasi secara mudah adalah dengan membayangkan sesuatu menimpa kita dan hayati sampai mendalam, nah reaksi yang kita rasakan terhadap sesuatu yang menimpa kita itu di pindahkan ke bentuk tulisan.
     Anda perlu bertanya, seberapa besar bahan yang anda kuasai sebelum anda memulai menarikan jari tangan. Pengarang seyogyanya menguasai masalah dengan cara menggumulinya, misalnya kebetulan profesi anda sehari-hari atau dengan melakukan riset dan wawancara. Penguasaan masalah akan menyebabkan anda bisa bertutur bagian-bagian yang tak kasatmata, tak sekedar yang terlihat di mata.
     Dalam mengarang, anda memang tak perlu repot-repot menentukan tema dalu. Lakukan terbalik dengan cara memperoleh ide terlebih dahulu. Ketika ide sudah didapat, anda dapat menggolongkan ke dalam suatu tema, yang berkaitan dengan 

Senin, 01 September 2014

ICE BREAKING

ICE BREAKING


     Ice Breaking adalah suatu aktivitas kecil dalam suatu acara yang bertujuan agar peserta acara mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya. Ice breaker secara bahasa adalah pemecah kebekuan. Menurut Syam Mahfud (2010) ice breaking adalah suatu aktivitas kecil dalam suatu acara yang bertujuan agar peserta mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya. Kegiatan ini biasanya berupa suatu humor, kadang berupa kegiatan yang cenderung memalukan, kegiatan berupa informasi, pencerahan, atau dapat juga dalam bentuk permainan sederhana. Selanjutnya ice breaking bisa diartikan sebagai usaha untuk memecahan atau mencairkan suasana yang kaku seperti es agar menjadi lebih nyaman mengalir dan santai. Hal ini bertujuan agar materi-materi yang disampaikan dapat diterima (Nida, 2011)
     Kegiatan ini biasanya bersifat suatu kelucuan, bahkan terkadang pula memalukan, kadang hanya sekedar informasi kadang juga berupa pencerahan. Kalau dipilih kegiatan yang cocok, ice breaking bisa menjadi alat yang tepat untuk memfasilitasi kesuksesan sebuah acara. 
    Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata setiap orang untuk dapat berkonsentrasi pada satu fokus tertentu hanyalah sekitar 15 menit. Setelah itu konsentrasi seseorang sudah tidak lagi dapat fokus. Dalam suatu pelatihan hal tersebut perlu mendapatkan perhatian yang serius. Seorang fasilitator harus peka ketika melihat gejala yang menunjukkan bahwa peserta sudah tidak dapat konsentrasi lagi. Apa yang harus dilakukan oleh seorang fasilitator ketika melihat gejala demikian? Salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan ice breaking kepada peserta training. 
Kapan Ice breaking dibutuhkan? Sesuai namanya, Ice breaking dibuat untuk “memecahkan es” pada suatu acara, baik itu pesta ataupun pada pertemuan – pertemuan yang lebih formal. Teknik ini sering digunakan ketika peserta belum saling kenal, belum pernah bekerja sama ataupun belum mengenal lingkungan sekitar. contoh yang lain adalah:
* Saat peserta datang dari berbagai beckground yang berbeda.
* Peserta perlu untuk bekerjasama secepatnya untuk satu tujuan.
* Tim baru terbentuk.
* Topik diskusi merupakan hal baru.
* Sebagai fasilitator yang ingin lebih mengenal peserta maupun sebaliknya. 
Tujuan dilaksanakan ice breaking adalah :
1. Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setarap) antara sesama peserta dalam kegiatan training.
2. Menghilangkan sekat-sekat pembatas di antara peserta, sehingga tidak ada lagi anggapan si anu pintar, si anu bodoh, si anu kaya, si anu bos dan lain sebagainya, yang ada hanyalah kesamaan kesempatan untuk maju.
3. Terciptanya kondisi yang dinamis di antara peserta
4. Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama peserta untuk melakukan aktivitas selama training berlangsung. 
Mendesain “Ice Breaker”.
Kunci dari kesuksesan ice breaker adalah mengkhususkan kegiatan ini untuk menunjang agenda yang ada dan mencairkan suasana. Langkah – langkah Mendesain Ice Breaker:
* Ketahui dulu “es-es” yang ada.
* Klarifikasikan tujuan yang khusus pada sesi ice breaking ini.
* Dengan Tujuan yang jelas desain sesi ice breaking bisa dimulai. Buat list pertanyaan bagaimana anda akan mencapai tujuan anda
Beberapa Contoh Ice Breaking:
1. Ice Breaker Perkenalan
  •  The Little Known Fact -> Menanyai Peserta tentang nama, alamat dll. 
  • True or False -> Seorang peserta diminta memperkenalkan diri. kemudian fasilitator membuat sebuah pernyataan berkaitan dengan orang tersebut. kemudian fasilitator meminta kepada peserta untuk menebak, apakah pernyataan tadi benar atau salah? 
  • Problem Solver -> Kondisikan Peserta menjadi kelompok – kelompok kecil. kemudian beri kelompok itu suatu soal untuk mengerjakan dalam waktu yang singkat.
  • Interviews -> Semua peserta di pecah menjadi beberapa group, dan masing – masing menginterview temannya. kemudian peserta di satukan kembali dan masing – masing di minta menceritakan hasil interview mereka.
2. Ice Breaker Team Building 
  • Ball Challenge : Permainan Ini dibuat mudah untuk fokus pada tujuan bersama dan mendorong pada tiap peserta untuk menyatu dengan peserta yang lain. Cara permainan: Group di buat barisan melingkar, kemudian fasilitator memegang bola. kemudian fasilitator melempar bola itu ke peserta dan peserta melanjutkan dengan melempar bola itu ke peserta yang lain. Sebelumnya peserta yang melempar bola itu harus menyebutkan nama peserta yang akan di lempar. begitu seterusnya. bisa dimodifikasi dengan mempercepat lemparan atau aliran bola dan juga dengan menambah jumlah bola sehingga tidak hanya 1. 
 Ini ada beberapa video yang bisa di download contoh-contoh ice breaking :
  1. http://downloads.ziddu.com/download/24019351/Ice-Breaking---COCONUT-Dance_360p.mp4.html
  2. http://downloads.ziddu.com/download/24019357/Ice-Breaking-Pelatihan-ALFHE-di-UAD_240p.flv.html
 
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com